Siapa yang tak kenal dengan salah satu PO legenda ini. Berlivery dominan hijau dengan gambar naga sebagai ciri khasnya. Lalu berubah menjadi livery doreng, berubah lagi dengan livery ala Gunung Harta. Sempat kembali ke livery Hijau dengan gambar naga dan ada hijau dengan striping merah dan kuning, lalu dia menghilang. Yups, Dahlia Indah, sang raja jalanan pada masanya. Melayani trayek jauh, Blitar - Tulungagung - Kediri - Solo - Yogya - Purwokerto dengan kelas Ekonomi Non AC, bersaing dengan raja jalanan lain dari Kediri yaitu si saudara kembar Hasti dan Jaya Raya, duet saudara yang mampu mengimbangi sang naga dari kota marmer kala itu. PO Seperti Sumber Kencono, Eka, Mira, Mapan, Jaya Utama, dan Trigaya tak mampu mengalahkan duet plat AG itu.
Tak ada gading yang tak retak, kehancuran menghampiri keduanya. Hasti tak mampu terus "Balapan" di jalur tengkorak ini. Armadanya perlahan - lahan habis karena seringnya terlibat kecelakaan. Hal serupa juga menghinggapi sang saudara Jaya Raya, ditimpa masalah yang sama sehingga mereka terpaksa mundur dari medan pertempuran. Di jalur yang sangat gemuk ini akhirnya menyisakan sang naga "Dahlia Indah. Namun sayang dia sepertinya gagal memanfaatkan keuntungan sebagai pemain tunggal. Berbeda dengan rivalnya, Dahlia Indah tidak hancur karena laka, namun hancur karena blunder yang dilakukannya. Mulai dari tarif yang terkesan ngawur khas bus setoran dan pelayanan yyang sangat kurang memuaskan konsumen membuat PO ini ditinggalkan konsumennya. Yang paling mengagetkan, dari beberapa sumber mengatakan ulah crew yang mencampur solar dengan minyak tanah bahkan minya goreng, mengakibatkan armadanya tidak mampu bersaing lagi dengan kecepatan pesaing lain seperti Sumber Grup dan Eka-Mira dengan armada gressnya. Armadanya hancur satu persatu sehingga jumlahnya semakin berkurang.
Salah satu unit ATB Dahlia Indah
Sempat menurunkan pasukan ATB, namun sayangnya sudah terlambat. Stigma di konsumen mengenai PO ini terlanjur buruk. Suka ngetem lama dan tarif ngawur membuat orang berpikir 2 kali untuk menggungakan jasanya. Konsumen lebih memilih mengoperkan diri, dengan naik Harapan Jaya/Pelita Indah menuju Kertosono/Braan/Mengkreng lalu oper bis menuju Solo/Yogy/Purwokerto dengan Sumber Grup atau Eka-Mira. Jika perilaku konsumen terus - terusan seperti itu, trayek Blitar - Purwokerto, trayek yang telah membesarkan nama Dahlia Indah terancam mati.
Sebenarnya Dahlia Indah memiliki trayek lain. Ponorogo - Tulungagung - Malang - Denpasar, trayek yang sampai saat ini masih hidup. Namun sudah di lepas oleh Manajemen Dahlia Indah ke tangan Madjoe Group, ntah tahun berapa trayek itu dilepas. Madjoe Group sempat mempertahankan nama Dahlia Indah untuk trayek itu sebelum berubah menjadi Madjoe Berlian, bahkan sekarang menggunakan armada ATB untuk bisa tetap bersaing. Namun sayangnya tryek itu harus dipotong hanya sampai Tulungagung, dikarenakan sistim driver engkel membuat stamina driver bener - bener terkuras, bahkan ada beberapa yang mengatakan, armada - armada itu tidak ada yang full trip sampai denpasar, mungkin hanya sampai Malang atau Jember saja, untuk ke pulau Dewata dimulai armada yang perpal/parkir Jember sajja. Ya efek driver engkel, dari pada memaksakan lebih baik semaksimalnya saja. Disisi lain pemotongan trayek itu karena Madjoe Group memiliki garasi sendiri di Tulungagung, sehingga memudahkan untuk parkir atau perawatan.
Dahlia Indah juga sempat menyebrang ke pulau andalas. Namun untuk divisi Sumatra, armadanya ditempatkan di Garasi yang ada di daerah Kebakkramat, Solo. Dengan livery bunga namun tetap dominan warna hijau, Dahlia Indah mencoba menaklukkan pulau Sumatra. Dibeberapa sumber mengatakan bukan hanya sampai Lampung/Palembang/Pekanbaru saja, tapi dengan layanan Ekonomi Non AC alias Bumel, Dahlia Indah juga masuk sampai Medan bahkan Aceh. Sesuatu yang sangat luar biasa dan sangat layak PO ini menjadi Legenda.
Salah satu unit Trenggalek - Blitar
Bukan hanya itu, Dahlia Indah juga memiliki trayek Blitar - Tulungagung - Trenggalek, namun trayek itu akhirnya harus dilepas dan Sido Mulyo menjadi operator trayek tersebut. Juga sempat masuk Surabaya dengan trayek Trenggalek - Kertsono - Surabaya (Mungkin trayek eks Putra Jaya karena ditiket bergambar bus Putra Jaya) dan melalui jalur sedikit berbeda. Tulungagung - Blitar - Malang - Surabaya, trayek yang berbeda dengan kompetriornya masa itu dan ntah trayek ini masih ada atau sudah dilepas ke PO lain. Karena di Terminal Gayatri sekarang tidak ada PO yang melayani trayek itu. Dan sekarang hanya cerita dan beberapa foto karcisnya saja yang bisa dinikmati, foto armada yang melayani trayek itu sangat sulit ditemukan. Ya efek keterbatasan teknologi di masa lampau, membuat jarang yang mendokumentasikan.
Karcis Trenggalek - Surabaya Via Kertosono
Bukan hanya bus reguler saja, Dahlia Indah juga bermain di bus appron / bus bandara. Unitnya sangat banyak yang digunakan oleh Lion Air dan Air Asia. Mungkin sumber penghasilan utama perusahaan ini justru di sektor ini. Karena Dahlia Indah teribilang sukses disektor ini sampai sekarang. Dahlia Indah juga memiliki karoseri sendiri, S9mbilan Kaoseri. Masih satu atap dengan garasi tempat parkir bus, perawatan body bus dilakukan sendiri. Ntah itu perbikan kecil atau rombak body secara total. Banyak bus bandara yang dirombak di karoseri ini, ya karena kekuatan Dahlia Indah saat ini di bus bandara. Sehingga setelah beberapa tahun bertugas di bandara, beberapa unit harus pulang ke garasi dan diputuskan apakah kembali ke bandara dengan beberapa perbaikan atau pindah divisi menjadi reguler atau direbody terus dijual atau dikilokan. Armada garapan sendiri memang keren - keren, jadi tidak dipungkiri jika Dahlia Indah sangat kuat disini.
Salah satu unit kreasi S9mbilan Karoseri
Namun sayang berbeda dengan divisi reguler, benar - benar sepi. Trayek ke sumatra akhirnya non aktif, trayek purwokeronan juga di ujung tanduk. Satu atau dua armada setiap harinya parkir dan berangkat dari Teminal Gayatri, namun hanya satu dua seat saja yang bertuan, bahkan tak jarang terlihat ngglondang tanpa penumpang ketika berangkat. Lambat laun armadanya sulit ditemukan terparkir di Terminal Gayatri, bahkan yang eks Harapan Jaya kabarnya sudah terjual, dan aku menemuinya menjadi bus karyawan. Benar - benar mati trayek Blitar - Purwokerto, ditambah lagi masukunya Rosalia Indah (Malang - Blitar - Solo - Yogya - Purwokerto - Cilacap) dan Harapan Jaya (Blitar - Tulungagung - Kediri - Solo - Yogya - Magelang), membuat kondisinya semakin terpuruk.
Seperti ada cahaya kedua, sang legenda kembali lagi. Dengan membeli unit bekas PO lain dan sedikit dipoles oleh karoseri S9mbilan, dia kembali lagi. Bersih - bersih garasi dilakukan, armada - armada saksi sejarah kejayaan yang telah lama tertidur dikirim ke tempat "penjagalan" di Jombang. Namun ada yang sedikit berbeda di moment comeback nya. Stiker Cepat dikaca depan dan unit ber AC, mengindikasikan Dahlia Indah tak lagi bermain di kelas Ekonomi Non AC. Beberapa unit eks Sindoro Satria Mas dan beberapa unit eks Bandara yang direbody setiap harinya berangkat dari Terminal Gayatri. Trayek yang dilayani pun berbeda, tak lagi ke Purwokerto. Dikaca depan tertulis jelas "JAKARTA", menghidupkan kembali trayek Jakartanan yang dimilikinya. Tak berhenti sampai disitu, dibeberapa agen Terminal Gayatri tertulis Dahlia Indah. Seperti menunjukkan dia benar - benar kembali dengan wajah dan semangat baru. Semoga Dahlia Indah bisa kembali sukses dan meraih kejayaanya.
Saksi bisu kejayaan Dahlia Indah tempo dulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar