"Dan akhirnya ada yang bertahan dan ada yang tereliminasi, yang bertahanlah akan menjadi pemenang". Sekilas kata - kata itu seperti bermain sebuah game bergenre battle royale, dimana player dituntut untuk bertahan sampai akhir game untuk jadi pemenang. Samahalnya dengan bisnis transportasi, siapa yang bertahan akan menggapai kejayaan. Tak sedikit trayek angkutan umum yang diisi hanya 2 pemain saja, seperti Blitar - Surabaya yang diisi Harapan Jaya dan Bagong, Purwantoro - Solo yang diisi Tunggal Dara Putera/Timbul Jaya dan Trenggalek/Tulungagung - Surabaya yang sempat diisi 2 pemain saja, yups Pelita Indah dan Harapan Jaya. Rivalitas mereka sangat sengit, beradu kecepatan dan beradu pelayanan, yang akhirnya penumpanglah yang diuntungkan.
Berbicara trayek Trenggalek/Tulungagung- Surabaya sangatlah menarik. Salah satu trayek gemuk yang banyak menarik perhatian pengusaha angkutan tranportasi bus. Yang ku ingat pemain dijalur ini ketika tersisa beberapa pemain seperti Harapan Jaya, Pelita Indah, Surya Indah, Setiawan, Sri Lestari, Surya Perdamain, Surya Kencana, Seruni, Baruna, Jaya Baru, Pangeran, dan Daya Guna. Lebih tua lagi sebenarnya ada beberapa pemain lain seperti Putra Jaya, Rukun Jaya dan Tirto Agung, namun mereka lebih dulu mundur sebelum diriku ini mampu membaca suatu nama P.O di body bus. AKAS dan Restu Panda sempat juga masuk jalur ini, sayangnya tak bertahan lama pula.
Lambat laun mereka runtuh satu per satu, menyisakan 4 pemain saja yaitu Harapan Jaya, Pelita Indah, Baruna dan Jaya Baru. Namun Jaya Baru dan Baruna sepertinya tidak mampu bersaing untuk jalan reguler setiap harinya, jadi di hari - hari tertentu bisa melihat unitnya jalan seperti libur tahun baru atau mudik idul fitri. Sehingga bisa dikatakan hanya 2 perusahaan yang bertahan, Pelita Indah dan Harapan Jaya. Harapan Jaya dengan kekuatan yang superior masuk ke Trenggalek dengan rasa percaya diri tinggi sehingga mampu menguasai jalur ini. Unit yang selalu uptodate, pelayanan prima, dan bisa diandalkan setiap saat, membuat pelanggannya terus bertambah. Disisi lain, seperti 2 sisi mata uang berbeda, Pelita Indah susah payah untuk bertahan. Sempat mengikuti Harapa Jaya mengoprasikan unit ATB berbody Sprinter, Legacy, Titan dan Discovery dengan dapur pacu Hino AK3HR maupun AK-8. Pelayanan yang menurutku lebih istimewa dari rivalnya, crew ramah, jarak antar seat terbilang longgar, dan harga yang sedikit lebih murah menjadikan nilai plus. Namun sayangnya tidak dibarengi dengan perawatan armada yang bagus, berimbas banyak yang perpal/tidak jalan unit AC maupun Non AC nya walaupun sebenarnya Pelita Indah memiliki banyak jam keberengkatan. Ditambah lagi masalah finansial yang melanda perusahaan ini sehingga terpaksa melelang sebagian besar armadanya, bahkan seluruh Legacy yang dimilikinya dilepas semua. Bertahan dengan 4 unit Discovery dan 1 Sprinter yang jalan membuat nasibnya diujung tanduk.
Namun angin segar berhembus dari timur. Bukan pemain lama yang hidup kembali, namun pemain baru yang mencoba peruntungannya di jalur ini. Bagong, perusahaan otobus dari Malang, bekerja sama dengan Pelita Indah untuk bisa masuk ke jalur ini. Bermodalkan Mitshubishi Center berbody mirip Infinity Deluxe Tri Sakti, si kecil ini siap menantang kuda Tulungagung. Berkat masuknyya Bagong, terciptanya inovasi baru di trayek ini, ATB Cepat / Via Tol dan Patas Via Tol. Daya tarik dari inovasi ini yaitu waktu tempuh yang terpangkas menjadi lebih cepat, namun disisi lain juga mengorbankan penumpang dari/ke area Jombang dan Mojokero karena letak pintu tol di daerah Kertosono. Tak berhenti disitu, setelah sukses masuk Tulunagung, Bagong juga akan masuk Trenggalek dengan armada sama tapi beda. Sama - sama berjiwa Mitsubishi Center namun berbody ala Jetbus 3 MD. Ntah bagaimana kelanjutan cerita di jalur ini, biarkan mereka beradu pelayanan dan fasilitas karena yang diuntungkan tetap penumpang.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar